Internal Audit Indonesia's

Februari 8, 2010

TANGGUNG JAWAB AUDITOR INTERNAL DALAM PENCEGAHAN, PENDETEKSIAN DAN PENGINVESTIGASIAN KECURANGAN

Filed under: Artikel seputar Internal Audit — internalauditindonesia @ 12:00 am

(Artikel ini telah dimuat di Majalah Krakatau Steel Group (KSG), Edisi No. 30, Tahun 3/ 2008, pada Rubrik “RAGAM”, Hlm. 22-23)

Oleh : Muh. Arief Effendi (SPI PT. KS)

Kecurangan (fraud) dapat didefinisikan sebagai tindakan kriminal (crime) yang dilakukan secara sengaja oleh seseorang atau beberapa orang berupa kecurangan / ketikakberesan (irregularities) atau penipuan yang melanggar hukum (illegal act) untuk mendapatkan keuntungan atau mengakibatkan kerugian suatu organisasi (perusahaan). Pengetahuan dan keahlian mengenai fraud auditing menjadi kebutuhan mendesak bagi auditor internal yang mengharapkan pelaksanaan audit atas fraud dapat berjalan dengan lancar.

Kategori fraud

1.    Fraud yang dilakukan demi keuntungan suatu organisasi, misalnya :

  • Penjualan asset fiktif.
  • Pembayaran yang tidak syah, seperti penyuapan, pemberian komisi, donasi politis, pembayaran kepada pejabat, pelanggan atau pemasok.
  • Dengan sengaja melakukan penilaian yang salah atas transaksi, asset, pendapatan atau kewajiban.
  • Dengan sengaja melakukan transaksi hubungan istimewa.
  • Dengan sengaja tidak mencatat (unrecorded)  atau tidak menjelaskan informasi yang signifikan sehingga gambaran keuangan dari suatu organisasi tidak menggambarkan apa yang senyatanya.
  • Melakukan aktivitas bisnis yang bertentangan dengan peraturan perundangan Pemerintah.
  • Kecurangan dibidang perpajakan (Tax Fraud).

2.   Fraud yang dilakukan dengn jalan merugikan suatu organisasi, misalnya :

  • Menerima uang suap atau komisi.
  • Pengalihan keuntungan yang akan diterima oleh organisasi (perusahaan) kepada seseorang di dalam ataupun diluar perusahaan.
  • Dengan sengaja menyalahgunakan harta kekayaan organisasi (perusahaan) dan memalsukan catatan-catatan keuangan.
  • Dengan sengaja menyembunyikan atau salah (falsifikasi) menyajikan data atau kejadian.
  • Tuntutan atas imbalan jasa atau barang yang tidak diberikan kepada organisasi (perusahaan) tersebut.

Tanggung Jawab Auditor Internal

Auditor internal berfungsi membantu manajemen dalam pencegahan, pendeteksian dan penginvestigasian fraud yang terjadi di suatu organisasi (perusahaan). Sesuai Interpretasi Standar Profesional Audit Internal (SPAI) – standar 120.2 tahun 2004, tentang pengetahuan mengenai kecurangan, dinyatakan bahwa auditor internal harus memiliki pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti dan menguji adanya indikasi kecurangan. Selain itu, Statement on Internal Auditing Standards (SIAS) No. 3, tentang Deterrence, Detection, Investigation, and Reporting of Fraud (1985), memberikan pedoman bagi auditor internal tentang bagaimana auditor internal melakukan pencegahan, pendeteksian dan penginvestigasian terhadap fraud. SIAS No. 3 tersebut juga menegaskan tanggung jawab auditor internal untuk membuat laporan audit tentang fraud.

Pencegahan Fraud

Menurut Amrizal (2004), beberapa cara untuk pencegahan kecurangan antara lain :

  • Membangun struktur pengendalian intern yang baik.
  • Mengefektifkan aktivitas pengendalian.
  • Meningkatkan kultur organisasi.
  • Mengefektifkan fungsi internal audit.

Salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah timbulnya fraud adalah melalui peningkatan sistem pengendalian intern (internal control system) selain melalui struktur / mekanisme pengendalian intern. Dalam hal ini, yang paling bertanggung jawab atas pengendalian intern adalah pihak manajemen suatu organisasi. Dalam rangka pencegahan fraud, maka berbagai  upaya harus dikerahkan untuk membuat para pelaku fraud tidak berani melakukan fraud. Apabila fraud terjadi, maka dampak (effect) yang timbul diharapkan dapat diminimalisir. Auditor internal bertanggungjawab untuk membantu pencegahan fraud dengan jalan melakukan pengujian (test) atas kecukupan dan kefektivan sistem pengendalian intern, dengan mengevaluasi seberapa jauh risiko yang potensial (potential risk) telah diidentifikasi.

Dalam pelaksanaan audit kinerja (performance audit), audit keuangan (financial audit) maupun audit operasional  (operational audit), auditor internal harus mengidentifikasi adanya gejala kecurangan (fraud symptom) berupa red flag atau fraud indicator. Hal ini menjadi penting, agar apabila terjadi fraud, maka auditor internal lebih mudah melakukan investigasi atas fraud tersebut.

Pendeteksian fraud

Deteksi fraud mencakup identifikasi indikator-indikator kecurangan  (fraud indicators) yang memerlukan tindaklanjut auditor internal untuk melakukan investigasi. Beberapa hal yang harus dimiliki oleh auditor internal agar pendeteksian fraud lebih lancar antara lain :

  • Memiliki keahlian (skill) dan pengetahuan (knowledge) yang memadai dalam mengidentifikasi indikator terjadinya fraud. Dalam hal ini auditor internal harus mengetahui secara mendalam mengapa seseorang melakukan fraud termasuk penyebab fraud, jenis-jenis fraud, karakterisitik fraud, modus operandi (teknik-teknik) fraud yang biasa terjadi.
  • Memiliki sikap kewaspadaan yang tinggi terhadap kemungkinan kelemahan pengendalian intern dengan melakukan serangkaian pengujian (test) untuk menemukan indikator terjadinya fraud. Apabila diperlukan  dapat menggunakan alat bantu (tool) berupa ilmu akuntansi forensik (forensic accounting)  untuk memperoleh bukti audit (audit evidence) yang kuat dan valid.         Forensic accounting merupakan suatu  integrasi dari akuntansi (accounting), teknologi informasi (information technology) dan keahlian investigasi ( investigation skill).
  • Memiliki keakuratan & kecermatan (accuracy) dalam mengevaluasi indikator-indikator fraud tersebut.

Ketiga hal tersebut, dapat dimiliki oleh auditor internal setelah pengalaman bertahun-tahun melakukan audit berbagai fungsi / unit kerja di suatu organisasi (perusahaan).

Penginvestigasian Fraud

Investigasi merupakan pelaksanaan prosedur lebih lanjut bagi auditor internal untuk mendapatkan keyakinan yang memadai (reasonable assurance) apakah fraud yang telah dapat diidentifikasi tersebut memang benar-benar terjadi. Menurut Standar Profesi Audit Internal (2004 : 66-67) , dalam melakukan investigasi, auditor internal diwajibkan :

  1. Melakukan asesmen / penelitian yang seksama atas kemungkinan terjadinya fraud.
  2. Meyakini bahwa pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi yang diperlukan untuk menangani investigasi ini secara kelompok memang dimiliki oleh auditor internal.
  3. Membuat suatu alur prosedur untuk mengidentifikasi : siapa yang terlibat (pelaku fraud), sejauhmana luasnya fraud, kapan dan dimana dilakukan serta bagaimana teknik fraud yang dipakai dan tentunya juga berapa potensi kerugian yang diderita akibat perbuatan fraud tadi.
  4. Dalam melakukan investigasi diharapkan auditor internal selalu berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, misalnya bagian Personalia, Hukum, Security dan lain sebagainya.
  5. Untuk menjaga reputasi organisasi, pelaksanaan investigasi agar menjunjung tinggi harkat dan martabat personil yang diinvestigasi.

Kesimpulan

Auditor internal bertanggung jawab membantu manajemen dalam pencegahan, pendeteksian dan penginvestigasian fraud yang terjadi di suatu organisasi. Agar dapat menjalankan tugas yang diemban tersebut auditor internal perlu meningkatkan pengetahuan (knowledge) & keahlian (skill) melalui pendidikan profesi berkelanjutan (continuing professional education).

Referensi

1.    Amrizal, Pencegahan  dan Pendeteksian Kecurangan oleh Auditor, 31 Agustus 2004.

2.   Colbert,  Janet L. & C. Wayne Alderman, The Internal Auditor’s Responsibility for Fraud, The CPA Journal, 1998.

3.   Konsorsium Auditor Internal, Standar Profesi Audit Internal, Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA), Cetakan pertama, Jakarta, 2004.

About these ads

11 Komentar »

  1. Saya ingin bertanya tentang kasus yang saya hadapi. Saya seorang marketing pada Perusahaan Industrial suppliers. Saat ini salah satu customer ( pabrik ) saya sdg ada audit tahunan, dan tanpa sepengetahuan saya, Pimpinan pabrik melarang masuk area pabriknya, dimana semua proses penawaran dan order yang telah saya terima “DI PENDING” dan tidak boleh dilaksanakan. Dengan alasan kinerja kantor saya dianggap PENUH KEJANGGALAN oleh tim Internal Audit mereka.
    Padahal perusahaan dan saya pribadi selaku marketing yang menangani perusahaan tersebut tidak pernah sama sekali dihubungi atau di investigasi oleh tim auditor mereka.

    Apakah tindakan Customer saya itu bisa dibenarkan?. Perusahaan tempat saya bekerja merasa sangat dirugikan nama baiknya karena diberi status “PENUH KEJANGGALAN” juga telah mengalami kerugian secara materi karena Order dari mereka telah dipesankan bahan dan barangnya.
    Mohon tanggapannya, atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kaih.

    Regrads
    Yunni

    Komentar oleh Yunni — Mei 28, 2010 @ 12:09 am | Balas

    • Dear Ibu Yunni,
      Menanggapi pertanyaan Ibu, yang saat ini ordernya di pending karena customernya sedang di audit. Saya akan berusaha jawab senetral mungkin dan mungkin ada sedikit pandangan dari seorang auditor.
      Mungkin ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan sebelumnya, diantaranya adalah:
      Apakah selama ini Ibu Yunni dapat masuk ke dalam area pabrik dari customer Ibu ? Karena berdasarkan penjelasan Ibu sebelumnya, saat ini Ibu dilarang masuk area pabrik.
      Saya rasa memang customer Ibu tidak perlu memberitahukan kepada semua suppliernya bahwa saat ini sedang dilaksanakan audit tahunan. Karena yang diaudit adalah internal mereka.
      Dalam melakukan investigasi, auditor tidak akan mengatakan bahwa Saya dari Pabrik A sedang melakukan investigasi terhadap supplier yang sedang diinvestigasi. Supplier yang sedang diinvestigasi pun tidak akan berasa bahwa dia sedang diinvestigasi.
      Mengenai statement bahwa perusahaan Ibu dianggap Penuh kejanggalan itu dikeluarkan oleh siapa? Apakah dinyatakan secara umum atau secara personal?
      Apakah selama ini Ibu telah melakukan transaksi bisnis secara sehat?
      Apakah selama ini perusahaan Ibu biasa memberikan gratifikasi/ imbalan kepada customer Ibu (secara perorangan) ?
      Apakah ada kesepakatan atau agreement secara tertulis antara perusahaan Ibu dengan Customer, terkait dengan transaksi jual beli ? Mungkin ada service level, atau aturan mainnya? Apabila ada, mungkin Ibu bisa mengajukan komplain mengenai pending order kepada customer Ibu berdasarkan kesepakatan tertulis itu.
      Demikian tanggapan dari saya, dan terima kasih telah mengajukan pertanyaan.

      Salam Dahsyat,
      Tony S

      Komentar oleh internalauditindonesia — Mei 29, 2010 @ 9:56 am | Balas

      • pak saya mau bertanya, saya sekarang bekerja sabagai seorang auditor pada perusahaan dagang laptop, sya orang pertama yang menjadi auditornya padahal konsep pengeauditanya belum ada pak, sekarang ini diperusahaan sering sekali terjadi ketidak cocokan anatara barang real yang ada di gudang dengan data stock yang tercatat di sistem komputer setiap waktu, padahal semuanya proses pencatatan sudah menggunakan computer. yang ingin saya tanyakan dari mana saya harus mulai pemeriksaan agar masalah ini dapat saya deteksi, dan apa yang saya harus lakkukan? kalo bisa gambarkan skema tahapan yang saya harus lakukan dari awal sampai ahir. sebagai catatan barang yang ada masuk 2 kategori PPn dan Non PPn.makasih

        Komentar oleh fransisco. p — Juni 8, 2010 @ 12:07 pm

      • Dear Mr. Fransisco,
        Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini dan turut serta memberikan komentar.
        Masalah yang sedang anda hadapi sekarang ini adalah mengenai persediaan yah, dimana pada saat dilakukan stock opname terdapat selisih antara jumlah fisik barang dengan jumlah yang tercatat di dalam komputer. Sederhana saja, dari hasil stock opname harus ditelusuri apakah terdapat pengeluaran/penerimaan barang yang tidak tercatat ke dalam sistem? Apakah dapat terjadi pengeluaran/penerimaan barang dengan menggunakan dokumen manual? Apabila tidak terjadi hal diatas, terdapat kemungkinan barang hilang pada gudang anda.
        Yang harus dilakukan adalah stock opname harian yang yang dilakukan oleh orang gudang, surprise stock opname secara periodik yang dilakukan oleh orang non gudang. Apabila terjadi selisih harus dilakukan klaim kepada orang gudang agar menimbulkan efek jera bagi orang gudang.
        Mengenai kategori PPn dan non PPn tidak menjadi masalah dalam pengelolaan persediaan.
        Salam Dahsyat ,
        Tony Sunaryo

        Komentar oleh internalauditindonesia — Juni 9, 2010 @ 9:59 am

  2. Pak, boleh minta akum YM?atau email pribadi, saya seorang Internal Audit di Perusahaan Tambang Ternama di Indonesia, skg saya sedang audit suatu proses, dan banyak sekali fraudnya, saya ingin berdiskusi dan minta tanggapan,,terimakasih

    Komentar oleh Theo — Juli 19, 2010 @ 11:09 am | Balas

  3. Salam dahsyat pak Tony

    Saya seorang auditor yang lebih banyak melakukan audit sistem dan prosedur dan hal hal yang terkait dengan masalah administrasi. Ada keinginan untuk belajar lebih mendalam untuk melakukan audit laporan keuangan dan pajak. Sekiranya saya dapat belajar dengan bapak via email maupun media lain yang langsung berkaitan dengan kondisi di lapangan ], itu amat saya harapkan.

    Demikian pak Tony, atas perhatian dan bantuan bapak saya ucapkan terima kasih

    Salam dahsyat

    Komentar oleh dony — Oktober 21, 2010 @ 3:54 pm | Balas

  4. Pak saya seorang pengajar di sebuah universitas swasta. Kebetulan saya mengajar mata kuliah internal audit. Ada hal yang saya ingin tanyakan terkait dengan kondisi di lapangan. Kira2 menurut bapak atas lulusan khususnya untuk internal audit dibidang laporan keuangan, sdh cukup atau masih jauh dari harapan. Tks

    Komentar oleh Abdul Malik — Maret 14, 2011 @ 9:56 am | Balas

    • Dear Mr. Abdul Malik,

      Terima kasih sudah mau sharing dengan kami.
      Saya akan mencoba menjawab pertanyaan Bapak dari perspektif saya.
      Dalam melakukan pengajaran, setiap universitas dan dosen mempunyai style atau gaya mengajar yang berbeda2 dan hal tersebut tidak bisa digeneralisasi.
      Saya rasa teori2 yang diberikan sudah cukup, tetapi masih kurang diberikan contoh2 kasus yang dapat terjadi dalam melakukan audit beserta problem solvingnya selain itu masih kurang ditumbuhkan risk awareness. Hal ini dapat saya rasakan sendiri dulu pada saat kuliah dan dari staff2 yang baru masuk ke dalam dunia kerja.
      Saya mohon maaf apabila ada kata2 yang kurang berkenan, saya harap kita bisa lebih open minded dan bisa menerima kritik2 yang konstruktif.

      Salam Dahsyat,
      Tony Sunaryo

      Komentar oleh internalauditindonesia — Maret 30, 2011 @ 9:00 am | Balas

  5. saya masih kurang paham dengan pengendalian inter, apa bila ada perusaahaan yang baru merintis, cth nya perkebunana sawit, bagaimana melakukan sistem nya agar perusahaan tersebut bisa terarah, saya bicarakan kegiatannya baik dari hal pemisahan fungsi dlm setiap divisi.

    thank”s.

    Komentar oleh denny — Mei 12, 2011 @ 1:24 pm | Balas

  6. Selamat Sore Pak Thony,

    Saya seorang mahasiswa semester 6 di PTN Provinsi Banten. Kebetulan saat ini saya mendapat tugas makalah mengenai audit pertambangan umu. sekirannya bp bisa membantu pemahaman saya mengenai prosedur, langkah, dan resiko dalam mengaudit perusahaan tambang…

    Maksih sebelmnnya

    Komentar oleh Bahtiar Effendi — Mei 30, 2011 @ 3:10 pm | Balas


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Blog di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: