Internal Audit Indonesia's

Februari 11, 2010

7 Alasan Penting Eksistensi Crisis Management

Filed under: Artikel seputar Internal Audit — internalauditindonesia @ 12:00 am

Mengapa perusaan skala nasional perlu menerapkan Manajemen Resiko dalam tingkatan strategi dan opersionalnya ? Meski uraian dibawah ini lebih tepat diterapkan dalam dunia ritel, namun tak ada salahnya bila hal ini disesuaikan dengan industri dimana anda menggeluti. Baik itu industri perbankan, properti, pusat perbelanjaan, atau pun lainnya.

Beberapa uraian dibawah ini mencakup alasan-alasan penting yang mendasarinya :

1. Kesadaran mengambil resiko resiko.

Didasari bahwa operasional perusahaan ritel adalah bisnis beresiko, maka pada tingkatan stratejik dan operasional diperlukan aplikasi Manajemen Resiko.

2. Lingkungan Usaha yang Berubah.

Perkembangan bisnis ritel kini terus bergerak ke arah lingkungan yang dinamis, komplek, terdiversifikasi dan sangat kompetitif. Proses perubahan ini telah menjadi salah satu pemicu dari semakin tingginya intensitas resiko yang timbul dari setiap kegiatan operasional. Perubahan lingkungan usaha ini ditandari sekaligus disebabkan oleh keterkaitan satu sama lain beberapa faktor dibawah ini :

a. Tuntutan konsumen yang semakin tinggi dan persaingan yang semakin tajam serta terdiversifikasi.

b. Kondisi diatas tak jarang memangkas margin, sehingga perlu ada upaya untuk menghindarkan diri atau mengantisipasi agar gangguan operasional dalam berbagai bentuknya tidak membuat kerugian lebih banyak.

c. Kedua hal tersebut tidak terlepas dari lokasi berusaha (demografis) dan situasi sosial-politik (psikografis) dimana usaha itu berlangsung.

d. Perkembangan usaha, teknologi dan komunikasi menimbulkan adanya potensi gangguan operasional bagi toko-toko.

3. Peraturan Perundang-Undangan dan Otonomi Daerah (Peraturan Daerah). Sejumlah undang-undang yang berlaku di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung, mewajibkan pelaku usaha untuk memenuhi hak dan kewajiban konsumen / masyarakat. Beberapa undang-undang yang berkait dengan operasional pelaku usaha ritel cukuplah banyak, diantaranya : Undang-Undang Tenaga Kerja, Undang-Undang Konsumen, Undang-Undang Perlindungan Hak Cipta, dan Undang-Undang Pajak.

Terlebih bila perusahaan memiliki sejumlah outlet yang tersebar di sejumlah 39 kota di seluruh Indonesia, maka mau tak mau, siap tak siap, perusahaan pun akan juga sangat erat bersinggungan dengan peraturan daerah yang seringkali sangat berbeda penerapannya antara satu daerah dengan daerah lain. Perbedaan-perbedaan itu perlu difahami sedemikian hingga mampu meminimalisasi resiko operasional toko.

4. “Crisis Quotient” Pelaku Bisnis Ritel.

Pelaku bisnis ritel – antara lain Regional Command dan Store Command – dituntut untuk mampu mengidentifikasi hingga mengelola manajemen resiko operasional. Untuk itu kecerdasan mengelola krisis sudah jadi tuntutan yang melekat bagi pelaku bisnis ritel.

Pengelolaan Manajemen Resiko yang efektif berpotensi menjadi basis penyusunan strategi bisnis kedepan dan bermanfaat untuk sejumlah faktor dibawah ini :

a. Mengelola perubahan (organisasi, SDM dan proaktivitas terhadap perubahan lingkungan eksternal).

b. Melibatkan semua karyawan pada semua tingkatan dalam struktur toko untuk memenuhi tujuan perusahaan.

c. Memberikan gambaran kepada Chief Command khususnya mengenai kemungkinan kerugian dari sejumlah gangguan operasional bisnis ritel.

d. Meningkatkan metode dan proses pengambilan keputusan yang sistemastis yang didasarkan atas ketersediaan informasi sekitar (pers, institusi resmi, aparat, issue dan info dari RCT di kantor pusat).

e. Mempercepat proses recovery..

f. Menurunkan potensi kerugian yang lebih besar.

5. Kebutuhan menjadi “Peritel berskala nasional pilihan utama konsumen”.

Effective cost akan dapat diwujudkan bila sejumlah potensi gangguan operasional atau potensi kerugian dapat dicegah secara dini. Sehingga kinerja perusahaan bisa tumbuh sehat, kuat dan mampu mewujudkan “niatan” menjadi Peritel berskala nasional pilihan utama Konsumen.

6. Indonesia sebagai Wilayah Rawan Bencana.

Data statistik bencana di Indonesia menggambarkan bahwa 83% wilayah Indonesia adalah wilayah bencana alam. Mulai dari banjir, angin putting beliung, gempa vulkanik hingga tsunami.

Aspek psikodemografis dan kualitas sumber daya manusia pada umumnya juga memberikan kontribusi semakin besarnya peluang resiko terjadi. Sebagai contoh saat ada pemilu, pilkada, penertiban pedagang kaki lima dan unjuk rasa, tidak jarang menimbulkan gesekan-gesekan massa yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Tingkat pendidikan masyarakat atas perbedaan pandangan dan pendapat, juga bisa memicu bentrokan, kerusuhan dan aksi anarkis.

Pada akhirnya kesadaran untuk hidup bersama dengan sejumlah potensi gangguan alam, sosial dan politik, sudah menjadi paket kebijakan operasional pelaku bisnis ritel.

7. Faktor Lainnya.

Kebutuhan akan adanya sistem dan proses pengelolaan resiko yang komprehensif dan terpadu antara lain dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini :

a. Sistem pendukung Manajemen Resiko baik, sistematis dan berkualitas memang membutuhkan investasi yang besar dan terpadu guna memastikan pengendalian resiko efisien, efektif dan tidak tumpang tindih. Karena hal itu, dalam Risk Management ada bagian RCT  (Risk Control Team), Loss Prevention, Security dan Bisnis Sisdur.

b. Semakin beragamnya bentuk resiko dan modus resiko yang terjadi di operasional toko.

c. Resiko operasional bisa terjadi secara serentak, beragam dan kompeks. Pada saat gangguan operasional terjadi di berbagai wilayah dengan beragam bentuk, maka diperlukan acuan tindakan yang sama (satu persepsi) guna menghadapi kasus / bencana yang terjadi. Disinilah diperlukannya satu pedoman penanganan, SOP atau Business Continuity Plan.

Uraian diatas tentu menuntut sebuah sistem dan proses pengelolaan resiko yang mudah diubah (fleksibel dan dinamis), dalam arti selalu disesuaikan dengan kebutuhan secara cepat dan murah.

Namun berkait dengan kemampuan sumber daya manusia dalam menerapkan kebijakan Manajemen Resiko harus secara terus menerus disesuaikan dengan tantangan Manajemen Resiko yang terus berkembang.

Kebutuhan akan sistem dan proses pengelolaan Resiko diharapkan dapat meningkatkan kesadaran seluruh karyawan mengenai resiko, sekaligus dalam waktu bersamaan mengembangkan budaya Manajemen Resiko pada seluruh jenjang organisasi.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: